Kisah Julaibib r.a., Bukan Dongeng Beauty and The Beast

Dikisahkan ada seorang pria, ia dijauhi oleh orang-orang di sekitarnya karena memiliki tubuh pendek dan tak menawan.  Jika dilihat dari fisiknya, tak ada menarik-menariknya dari pemuda ini. Karenanya, orang-orang di Madinah kala itu tak begitu senang dengan  keberadaannya di kota itu. ia seolah disisihkan dari masyarakat. Tak banyak orang yang mengenalnya. Ia bahkan sering dilupakan keberadaannya. Pemuda itu bernama Julaibib.

Selepas peristiwa Hijrah, Rasulullah menjadikan ia seorang teman, merawat, dan mengangkat martabatnya. Ada kisah menarik dari seorang Julaibib. Suatu ketika Rasulullah SAW mendatangi seorang sahabat Anshor dan berkata, “Nikahkanlah putrimu untukku.”

Sang sahabat menyambut dengan gembira tawaran Beliau. Kemudian Rasulullah menjelaskan bahwa pinangan itu bukan untuknya. “Kalau begitu pinangan ini untuk siapa ya Rasulullah?”

Beliau menjawab, “untuk Julaibib.”

Dengan penuh kebingungan, sang sabahat berkata, “Baiklah, wahai Rasulullah. Akan tetapi, aku harus bermusyawarah dulu dengan istriku.”

Ia pun menemui istrinya dan menceritakan perihal Rasulullah yang ingin meminang putri mereka. Sang istri pun menyambut dengan gembira. “Tapi, Rasulullah tidak meminang untuk dirinya.” Jelas sang suami.

“Lantas untuk siapa pinangan itu?”

“Rasulullah meminang untuk Julaibib.”

“Untuk Julaibib? Tidak! Aku tidak mau. Jangan kau nikahkan dengannya!”

Percakapan mereka pun didengar oleh sang putri. “Siapakah yang telah meminangku, wahai ayah?” Ternyata sang putri menjawab dengan tegas, “Apakah kalian menolak perintah Rasulullah SAW? Bawalah aku kepada beliau. Sungguh, beliau tidak akan menyia-nyiakanku.”

Mendengar penuturan putrinya. Sang ayah kembali menghadap Rasulullah SAW dan berkata, “Nikahkanlah putriku dengan Julaibib Radiyallahu anhu.”

Rasulullah SAW menikahkan wanita shalihah itu dengan Julaibib diiringi doa yang indah, “Ya Allah limpahkanlah kepadanya kebaikan demi kebaikan dan jangan jadikan kehidupannya kesusahan demi kesusahan.”

Laki-laki mana yang tak bahagia ketika  mendapatkan seorang istri yang shalihah. Begitu pun Julaibab. Tak terperi bahagianya ia. Kini ia menjalani hari bersama sang istri yang shalihah. Ia telah memiliki seseorang tempat ia membagi tekanan yang ia rasakan selama ini. Namun, kebingungan menghampirinya tatkala ada panggilan jihad mengetuk hatinya; Rasulullah memerintahkan umat muslim untuk berjihad. Julaibib bimbang memilih istri shalilah dan kebahagiaannnya atau jihad yang menjanjikan syahid untuknya. Julaibib pun akhirnya memilih jalan menemui kerinduannya untuk syahid. Maka, berangkatlah Julaibib ke medan perang. Ia tinggalkan istri yang shalihah itu.

 Selepas perang, Rasulullah biasa bertanya kepada para sahabat tentang siapa saja yang syahid. “Siapa saja yang gugur di jalan Allah?” Tanya beliau.

Mereka menjawab, “Fulan dan Fulan ya Rasulullah.”

Rasulullah kembali menanyakan hal yang sama kepada para sahabat. Mereka masih menjawab  dengan jawaban yang sama.

Kemudian Beliau berseru, “Sesungguhnya aku telah kehilangan salah seorang sahabatku, Julaibib. Carilah ia!”

Para sahabat segera mencari jasad Julaibib dan mereka mendapatkan jasadnya tersungkur dikelilingi tujuh orang kafir. Segeralah mereka menemui Rasulullah dan menceritakannya. Kemudian Rasulullah menemui jasad Julaibib dan bersabda: “Sesungguhnya, Julaibib ini adalah sebagian dari aku, dan aku ini sebagian dari dia.”

Ada pelajaran berharga yang bisa kita ambil dari kisah tersebut. Pelajaran tentang akhlak terhadap sesama terlepas apapun kekurangannya, terlepas bagaimana pun sikap orang terhadapnya. Lihatlah bagaimana Rasulullah memperlakukan Julaibib, meskipun ia memiliki kekurangan yang orang lain tak menyukai kekurangan tersebut. Kekurangan yang membuat orang menjauhinya. Tapi, Rasulullah menghapus semuanya. Ia mengangkat martabat Julaibib, ia mengisyaratkan betapa Julaibib berharga di sisinya, bahkan di sisi Khaliknya. Pantaskah kita sebagai manusia biasa merendahkan orang-orang yang Allah beri kekurangan? Sedang Rasulullah telah meneladankan cara begitu mulia memperlakukan mereka.

Pelajaran lain yang bisa kita ambil adalah tentang taat. Saksikan ketaatan Julaibib akan perintah Rasul-Nya. Saksikan pula ketaatan wanita shalihah, putri sahabat Anshor. Ketaatan yang hanya mampu dilakukan seorang umat manusia dengan iman di dada. Allahu Akbar! Sungguh, Ini bukan dongeng Beauty and The Beast, inilah kisah teladan dan pelajaran berharga bagi umat manusia yang sering kali memandang rupa. Begitupun tentang cara Allah mempertemukan dua manusia dalam ikatan pernikahan, Allah selalu punya cara yang tak pernah manusia duga. Julaibib yang pesemis dengan keadaannya, bahkan ia pernah berkata, siapa yang mau menikah denganku, ya Rasulullah? Ketika ditanya oleh Rasulullah SAW apakah ia tidak ingin menikah. Tapi Allah telah menjawab semua kepesimisannya dengan janji yang pasti. Wallahu’alam bishowab…

Iklan

Suatu Senja di Tepian Pantai

Nak,

Senja itu aku berdiri di tepi pantai,

Menyaksikan ombak datang dan pergi,

Buih yang memutih, hilang, dan kembali,

Garis laut, nun jauh. Langit menjadi tepi,

Sendiri, aku bertanya pada diri;

“Apakah dunia mulai menepi,

tua, ringkih, dan kian dekat dengan mati?”

Di ujung sana, sepasang muda-mudi,

Di atas batu yang kokoh dan mungkin kan bersaksi;

Tentang cengkrama mesra anak muda di tepian pantai.

Berpasang-pasang mata menatap dan menelanjangi

Setiap gerak dan laku diri.

Putri malu tak menguncup lagi,

Merpati hilang tempat bersembunyi.

 

Nak,

Terbayanglah wajahmu yang bercerita tentang mimpi-mimpi,

Usiamu, seusia sepasang muda-mudi yang mesra di tepian pantai,

Ah, tentang mimpi-mimpi,

Mimpi yang kau gantung jauh di atas bumi,

Betapa bahagianya aku dengan celotehanmu tentang mimpi,

Meski aku telah menyaksikan mimpi-mimpi yang tergantung, kandas, dan mati.

Ia tergilas zaman yang gila mencengkrammu, ananda. Ah, dunia begini,

Ia riuh akan segala hal, namun menjadi sunyi

Bagimu  yang teguh menggenggam mimpi

di atas cinta yang hakiki.

pantai 2

Matras, pada suatu senja.

Puding besar, 25 Januari 2018

 

Tentang Cara Allah

Minggu lalu, saat silaturahmi ke rumah seorang guru. Kami membawa sebuah bingkisan. Ketika ia buka, ia mendapati sebuah kaligrafi, dan ia begitu suka, “Masya Allah, siapa yang bikin? Saya suka sekali.” Serunya.
Kami sampaikan orang yang membuat kaligrafi tersebut. “Masya Allah, saya sudah lama minta dibikinin kaligrafi sama anak itu. Alhamdulillah, hari ini kalian membawanya. Alhamdulillah.”
Segala puji hanya bagi Allah. Alhamdulillah. Tanpa kami ketahui, hadiah yang kami bawa ternyata salah satu benda yang ia inginkan sejak lama.Ia pernah mengusahakan benda itu, tapi belum jua tercpai keinginannya. Qadarullah, ia mendapatkannya ternyata bukan dari apa-apa yang ia usahakan. Allah punya cara untuk memberikan bingkisan kecil itu lewat tangan-tangan kami yang silaturahmi dan belajar ke rumahnya. Cara yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Allahu Akbar, peristiwa kecil yang berhasil membuat kami merefleksikan diri tentang keinginan-keinginan yang Allah berikan dengan cara-Nya, bukan cara kami, atau cara manusia. Kami pun belajar bahwa manusia itu punya banyak keinginan, entah itu keinginan yang sekedar untuk memuaskan nafsu duniawi ataupun keinginan untuk menunaikan perintah-perintah Sang Khalik. Terlepas apapun keinginan tersebut, Allah selalu punya cara untuk melepaskan kepada hamba-Nya.
Manusia hanya berusaha dan tawakal. Kadang ada masanya, kita berusaha, berdoa, dan bertawakal kepada-Nya. Tapi, Dia belum jua melepaskan apa yang kita inginkan dari genggaman-Nya. Berbagai cara, berbagai daya dan upaya, tapi ketika Dia belum mengizinkan, apapun cara tersebut tak kan mampu menembusnya.
Allah selalu punya cara, kita ingin, tapi Dia belum menginginkan. Dia masih meminta kita untuk terus berusaha dan berdoa. Dia masih inginkan kita bermesraan dengannya di malam-malam sunyi. Nanti, akan tiba masanya, Dia melepaskan dari genggaman-Nya apa yang kita citakan dengan cara-Nya. Dengan cara yang mungkin tak kita duga-duga. Dengan cara yang tak pernah terbayangkan oleh akal kita. Dengan cara yang membuat kita akan meleleh karenanya. Dengan cara yang mampu membuat kita tersungkur dan sujud panjang memuji-Nya.
Tetaplah teguh di jalan-Nya, teruslah bertawakal kepada-Nya. Yakinlah dengan surat cinta-Nya yang begitu indah;
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan kuperkenankan bagimu.” (Q.S. Ghofir: 60)
 
#refleksi #ikhtiar #doa #tawakal

Catatan Kecil 2012

Aku menyaksikan hiruk pikuk dunia. Aku menyaksikan perdebatan, pertikaian, permusuhan, tumpah darah, dan banyak lagi. Hal-hal yang dulunya, aku menjadi bagian orang-orang yang lantang menentang dan terdepan menyuarakan di jalan-jalan, di forum-forum, dan media-media. Mungkin, ada yang bertanya-tanya, mengapa hari ini, aku seolah diam. Aku tak ada di barisan mereka yang berada di jalan, dan jarang terlihat di media sosial.

Lebih dari dua tahun ini, aku menjadi bagian dari ‘silent reader’ dan menjadi bagian orang-orang yang memperhatikan. Mungkin terlihat tak peduli, atau bahkan tak mau ikut campur. Sama sekali bukan seperti itu, meski aku tak mampu memberi alasan mengapa aku demikian? Tapi, di sini ada cinta yang tak terungkapkan dan tak ingin terlalu banyak mata yang melihat atau terlalu banyak telinga yang mendengar, dan lidah yang  komentar.

Dan satu hal, aku sadar. Hari ini, aku mempunyai peran yang lain. Peran dimana aku mempunyai tanggung jawab besar atasnya. Peran sebagai istri dan ibu, serta peran sebagai seorang guru. Mungkin, aku tak mampu seperti dulu. Tapi, aku percaya dengan peranku saat ini, ada andil dalam persoalan demi persoalan yang kini ramai kita bincangkan.

Selamat siang, Indonesia!

Cinta itu takkan pernah pudar.

Kangen

Kangen…..

Kangen….

Kangen….

Aku kangen sama kamu…

#ngepel

#ngelap

#gosok

*Maklum udah debuan, lumutan, bahkan karatan…

Ok..

Terbitkan!

Catatan Perjalanan 6: Wisata Alam Bangka

Berada di luar Pulau Bangka selama lima tahun membuatku tak banyak tahu tentang tempat-tempat yang asyik untuk menjadi tempat refreshing, yang aku tahu, ya pantai, karena Bangka ya terkenal dengan pantai-pantainya yang indah. Jangankan tempat wisatanya, jalan-jalan di ibu kota provinsi Babel, Kota Pangkal Pinang saja aku belum hafal. Tinggalin aja aku di salah sudut kota itu, alamat aku akan nyasar dan siap-siap orang kerepotan untuk menjemputku.

Kesempatan di pertengahan bulan Desember ini adalah ikut sepupu jalan-jalan. Uyeee… Akhirnya aku bisa jalan-jalan setelah sekian bulan jadi anak pingit (#eaaa :p). Ya, sodara-sodara, perjalanan aku selama pulang ke Bangka, ya Cuma dari kampus ke rumah atau dari rumah ke Sungailiat. Itu pun masing-masing seminggu sekali. Selebihnya, aku tak disuruh kemana-mana, mau kerja aja, kata ibu gini; udah nanti aja, refresh tu pikiran dulu #Loh (?). Apa bukan dipingit namanya. Ga kebayang kan, biasanya kemana aja aku mau, ya pergi. Jalan kemana aja, meski kantong pas-pasan, laju saja.

Dengan modal ajakan sepupu, aku tak tahu mau dibawa kemana jalan-jalan kali ini, yang aku tahu tujuan kami adalah Bangka tengah. Ya, lumayan jauh perjalanannya bro/sist! Mesti melewati Pangkal Pinang dulu, baru masuk Bangka Tengah.

Sepanjang perjalanan, aku tak banyak bicara. Selain perutku terasa mual karena duduk di belakang dan (lagi-lagi) mesti loncat-loncat ketika jalan bergelombang (gara-gara ini juga kepalaku sakit karena loncat tinggi banget, sampe kepala nyentuh bagian atas mobi -_-), aku ingin menikmati perjalanan ini sendiri (meski aku ga sendiri).

Ada satu tempat yang aku selalu suka ketika melewati daerah ini, daerah tepian laut. Namanya Penyak, berlokasi di Bangka Tengah. Desa ini berada tepat di bibir pantai Penyak. Jalan rayanya membentang sepanjang tepian pantai. Ya, kita bisa menikmati perjalanan sambil merasakan angin pantai, sambil menikmati aroma pantai. Sepanjang mata memandang ke pantai, laut membentang. Sepanjang mata memandang ke depan, jalan lurus seolah berujung di lautan. Saat ini, pantai Penyak sedang dikelola Pemkab Bateng, jalan-jalan setapak sepanjang pantai mulai dibangun, saung-saung juga mulai dibangun, dan di seberang pantai dibangun wahana permainan air yang katanya bulan Maret 2015 ini diresmikan.

Air Terjun Sadap

Aku tidak mengerti jalan-jalan yang ditempuh, yang aku tahu adalah suasana sepanjang jalan. Suasana yang masih menyenangkan, suasananya masih hijau, dan aku suka dengan suasana hijau alami seperti ini.

Tujuan pertama jalan-jalan kami kali ini adalah air terjun Sadap yang terletak di Dusun Sadap, Desa Perlang, Bangka Tengah. Jalan menuju air terjun ini masih lumayan bikin loncat-loncat 😀 | Tapi, ada hal yang membuat aku (entah kamu) berdecak kagum. Kebun-kebun lada membentang, dan Masya Allah, hijaunya. Mungkin selama bertahun-tahun orang tuaku berkebun lada, belum pernah sekali lada kami sebagus dan sehijau kebun-kebun lada tersebut.

Menuju lokasi air terjun, jalan yang mesti dilewati adalah jalan yang belum diaspal. Ya, jalan ke kebun, begitu kata kami. Sepertinya air terjun ini diapit oleh perbukitan, mungkin berada di antara bukit-bukit yang membentang. Baru sampai di kaki bukit, aku kira kami bisa langsung menikmati indahnya air terjun. Ternyata tidak sodara-sodara! Air terjun itu terletak di balik bukit yang ada di depan kami. Mendaki dulu, bro! waw!

Tak terlalu sulit mendaki bukit ini, karena (lagi-lagi) tempat ini sedang dikelola oleh Pemkab Bateng. Sepertinya Bateng sedang menggalakan bidang pariwisatanya. Tangga-tangga sudah dibangun, kemudian setengah perjalanan dibuat persinggahan. Tak perlu lama berjalan, kita telah bisa mendengar gemericik air. Rasanya tak sabar menyaksikan sumber air ini.

Daaaaaan…..

Kita sampai!

Allahu Akbar! Di pulau Bangka ternyata ada potensi yang tersembunyi seperti ini. Arus air beradu dengan bebatuan dan menghasilkan suara gemericik yang merdu. Melodi alam yang sedang bertasbih memuji pencipta-Nya.

sadap

Hilang letih mendaki ketika sampai, dan kita lapar sodara-sodara. Perjalanan panjang plus mendaki ternyata membuat tenaga terkuras, hampir lemas. Tak sabar kami membongkar perbekalan yang ada, dan supriseeeeeeee!!!! Nasi kita ketinggalan di mobil sodara-sodara!!!!!! Kita Cuma bawa lauk dan buahnya doang -_- | Tak ada wajah yang tersenyum, semua berubah masam mengalahkan asamnya jeruk kunci. Akhirnya, untuk mencairkan suasana, aku mengambil pisau dan mengupas mangga. Sekedar untuk mengembalikan energy dan mengembalikan senyum di wajah teman-temanku.

Tak ada yang mau berbaik hati turun ke bawah. Akhirnya, aku dan sepupuku berinisiatif untuk turun. Lumayanlah, turun naik bukit, lumayan bikin kaki pegal dan keringat. Alhmadulillah, olahraga setelah sekian lama tak olahraga 😀

Berada di tepi air terjun ini, luruh jua jiwa. Gemericiknya, buihnya, air pun bertasbih. Betapa kuasa Allah, di balik bukit yang berbatu ini, ada gemericik air, ada aliran air yang turun dari ketinggian. Duduk, menyaksikan air yang beradu dengan batuan dan menghasilkan melodi alam ini, aku terpana. Aku kembali, kembali pada fitrah, bahwa aku adalah makhluk yang selalu terpana dengan keindahan ciptaan-Nya. Bukankah, begitu fitrah kita? Hati kita, jiwa kita selalu luruh ketika bertemu kuasa-Nya? Tapi, kadang kita yang berdusta.

Bangkanesia

Selesai zuhur, kami melanjutkan perjalanan. Tujuannya kali ini adalh tempat yang tak direncanakan. Tempat yang direkomendasikan salah satu teman dari rombongan kami. Tempat ini namanya Bangkanesia, tak jauh dari air terjun Sadap. Jalan menujunya masih jalan merah. Awalnya, kami bingung, ini tempat apa? Tapi, akhirnya kami paham. Tempat ini dibangun selain tempat wisata, juga sebagai tempat pelestarian flora dan fauna. Ada hewan dan tumbuhan langka yang dirawat di tempat ini. sayang, Bangkanesia belum usai dibangun, masih banyak yang masih dalam tahap pembangunan. Sepertinya, tempat ini, akan menjadi tempat yang menyenangkan jika telah selesai di bangun. Tempatnya strategis, berada di kaki bukit. Puas keliling dan foto-foto, kami kembali di bawah guyuran hujan. Ah ya, Bangkanesia ini ternyata milik pribadi, waaaww…. Lahan seluas ini milik pribadi, kata penjaga disana, pemiliknya orang Cina. Hmm… bolehlah..

Hutan Pelawan

Pelawan adalah salah satu jenis tumbuhan yang hidup di daerah aliran sungai kecil di Bangka, daerah yang kami sebut lelap. Tumbuhan ini ternyata punya manfaat yang cukup banyak, kayunya bagus untuk kayu bakar dan kayu junjung lada. Selain itu, tumbuhan ini juga bisa dibuat teh yang mempunyai khasiat yang baik untuk tubuh. Jenis madu pelawan juga mempunyai khasiat untuk kesehatan, tapi pahitnya minta ampun dah. Dengan berbagai manfaat tumbuhan pelawan inilah, mungkin ada yang berinisiatif untuk melestarikannya. Jadilah salah satu caranya dengan adanya hutan pelawan ini.

Hutan pelawan terletak di desa Namang, masih Bangka Tengah. Namun, letaknya lebih dekat dengan kota Pangkal Pinang. Awalnya, aku pikir dominasi tumbuhan yang ada di lokasi ini adalah pelawan. Tapi, aku salah, ternyata berbagai jenis tumbuhan hidup disini, secara lelap sodara-sodara. Daerah rawa di tepi sungai kecil yang kaya akan berbagai jenis tumbuhan.

Mungkin, karena aku anak desa yang tumbuh dan besar di desa serta biasa menyaksikan tanaman-tanaman seperti ini, tak ada yang istimewa karena aku telah biasa dengan tumbuhan yang seperti ini. tapi, bagi orang asing yang belum pernah menyaksikan tumbuhan ini, tentu hutan ini memberi kesan baginya.

Memasuki kawasan hutan pelawan yang dibuka dengan gapura yang tinggi pake banget dan diapit dua patung lebah. Kita menyusuri jalan setapak dan dapat menikmati berbagai jenis tumbuhan lelap. Jalan setapak ini menuju jembatan yang dibangun untuk melewati sungai kecil yang melintasi hutan pelawan ini. jembatan yang cukup unik, berwarna orange dan membelah hutan. Tapi, secara keseluruhan jembatan ini belum usai dibangun. Masih ada jembatan yang harus hati-hati kita lewati karena kayunya yang hampir lapuk. Di ujung jembatan, kita akan kembali ke jalan raya, tak jauh dari gerbang utama tadi. Selain itu, di ujung jalan juga ada saung yang dibangun, mungkin untuk istirahat orang yang kelelahan setelah mengelilingi hutan pelawan.

Lagi-lagi, alam mengajak kita bertafakur, memuji kebesaran-Nya. Hutan, rumbutan, hewan-hewan, bahkan bebatuan mengajak kita bertasbih, mengingat-Nya. Tidakkah kita luruh jiwa kita?

 Note: Kalo penasaran, ntar foto-fotonya nyusul yak, belum dapet file fotonya secara pake kamera teman 😀

Bangka, 19 Desember 2014

Ingin Menulis (Saja)

Kadang, ada waktunya kita ingin menulis tapi tak tahu apa yang ditulis. Dan aku hanya ingin menulis setelah puas mencoret-coret lembar demi lembar buku harian. Tumpah ruah segala coretan, abstrak. Tak berbentuk, tak beraturan. Tapi, aku hanya ingin menulis, sekedar saja. Ya, hanya untuk menumpah segenap yang penuh, sesak, sedih, suka, duka, tawa, bahagia yang menari dalam dada.

Aku hanya ingin menulis, walau sekedar huruf-huruf yang tak terbaca. Biar lepas, biar bebas kata mengawan, berharap jika ada resah kan turut mengawan dan terbang jauh bersamanya.

Selamat menanti senja selanjutnya, dan telaga kita merona jingga. Jika esok ia menyaksikan embun, percayalah, ia kan sebening embun pagi dan kilaunya bak mutiara 🙂

Zen

muhammadzaini.com

Lies Nurhayati

Membaca untuk Menulis, Mendengar untuk Menyampaikan, Berharap Dapat Berbagi..

Efenerr

mari berjalan, kawan

alqur'anmulia

Menyibak Rahasia Dibalik Alqur'an

Bcrita.com

Berbagi Cerita dan Informasi Bermanfaat

Catatan si Boy

ranah panca indera berteriak, dalam tulisan...

Iwan Yuliyanto

- Fight For Freedom -

PKS KDW

Media Komunikasi dan Informasi PKS KDW

mainnahblog

The greatest WordPress.com site in all the land!

Rizki Ikhwan Blog

Jalesveva Jayamahe

Diari Ummu Aisha Pisarzewska

MASA KECIL TAK AKAN TERULANG , MEMOAR AISHA PISARZEWSKA BEGINiLAH CARA SAYA MENGENANG MASA DALAM PER JALANAN SEBAGAI SANG PERANTAU

syahdami

Tentang Ikhtiar dan Do'a

Al-Muhandisu

"Sebuah Tulisan Dapat Dinilai Manfaatnya Jika Tulisan Tersebut Bermanfaat Bagi Diri si Penulis dan Orang Lain yang Membacanya."

At The Movies

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar

Citra Wanurmarahayu

Rekaman jejak pencapaian masa depan

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Lazione Budy

'Saoirse' is not a word, it's angel

Coretan Pensil

walk this way

tentang PENDIDIKAN

AKHMAD SUDRAJAT